Ciamis Kota Manis Manjing Dinamis

Ciamis, sebuah Kabupaten di daerah Provinsi Jawa Barat, suatu kota dimana saya dilahirkan, kota dimana saya tumbuh. Kabupaten Ciamis berada pada area strategis yang dilalui jalan Nasional lintas Jawa Barat-Jawa Tengah dan jalan Provinsi lintas Ciamis-Cirebon-Jawa Tengah. Seperti dikutip dari https://www.harapanrakyat.com, Kabupaten Ciamis ini awalnya disebut dengan nama Galuh, karena dahulu di Ciamis ini terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Galuh. Singkatnya kerajaan Galuh ini terkenal dengan kejadian yang masih terkenang hingga sekarang, yaitu terjadinya perang Bubat antara Kerajaan Sunda (Galuh) dengan Majapahit. Peperangan tersebut terjadi karena Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit, yakni Patih Gajah Mada yang menghendaki Puteri Sunda, Dyah Pitaloka, menjadi upeti. hingga peperangan pun terjadi dan hampir semua gugur.

Dibalik cerita perang Bubat pun yang masih menjadi mitos adanya Sunda-Jawa tersebut, masih banyak potensi wisata dan situs budaya di Ciamis. objek wisata budaya di Ciamis diantaranya ada Situ Lengkong Panjalu (dengan objek wisata alam, danau dan ada beberapa peninggalan kerajaan kuno), Astana Gede (Bukti keberadaan Kerajaan Sunda), Karangkamulyan (pusat peninggalan kerajaan Galuh), Kampung Kuta (kamput adat), Urug Kasang (tempat ditemukannya fosil-fosil), Situs Gunung Susuru (tinggalan Punden Berundak dari masa Kerajaan Hindu).

Ciamis juga terkenal dengan Pantainya yang sangat indah, yaitu Pantai Pangandaran dan cagar alam Pananjung. Pangandaran merupakan objek wisata di Kabupaten Ciamis yang merupakan primadona pantai di Provinsi Jawa Barat. Pangandaran ini sendiri memiliki banyak sekali keistimewaan, diantaranya dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama, Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan orang untuk berenang dengan aman. Setelah itu, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih yang luas dimana setiap pengunjung bisa melihat batu karang dan ikan-ikan hias dengan jelas. Pada pesisir pantai pasir putih ini pengunjung bisa melakukan penyelaman. Di kawasan ini juga terdapat cagar alam, yang didalamnya terdapat Goa-Goa Alam yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Terdapat pula Goa Belanda sebagai tempat persembunyian tatkala mendapat serangan tentara Sekutu.

Masih banyak objek wisata lainnya yang perlu anda kunjungi, karena Ciamis, Kota Manis dengan segala objek wisata yang tidak kalah dengan daerah lain. Makanan khas Ciamis yakni Galendo, mungkin anda penasaran apa Galendo ? Galendo sejenis ampas dari minyak kelapa. Jika anda jalan-jalan ke Ciamis, jangan lupa mampis di Taman Raflesia, alun-alun kota Ciamis yang juga merupakan maskot Kota Manis ini. Dinamakan Taman Raflesia, karena di Taman tersebut di tengah-tengahnya terdapat patung raksasa bunga raflesia. Taman ini selalu rame dari pagi hingga tengah malam, dari mulai anak kecil, hingga orang tua banyak yang suka sekedar main di alun-alun ini.

Atraksi Seni Wayang Landung yang baru memulai karirnya, langsung menuai prestasi. Sejak diciptakan awal Agustus 2007 oleh seniman Ciamis Pandu Radea (yang juga wartawan budaya SK Priangan) seni helaran kreasi baru ini mampu menjuarai 2 event besar. Penghargaan pertama yang diraih Wayang Landung yaitu tampil sebagai 10 terbaik dalam kegiatan Parade Budaya Nusantara di Bali pada September 2007. Kegiatan prestisius tersebut diikuti oleh 50 peserta dari dalam dan luar negeri. Pada saat itu Wayang Landung menjadi utusan dari Kabupaten Ciamis sekaligus mewakili Jawa Barat bersama Kabupaten Sumedang.

Setelah itu pada even Parade Kemilau Nusantara yang usai diselenggarakan pada 25 November 2007, untuk tingkat Jawa Barat yang diikuti 24 kabupaten, Wayang Landung sebagai andalan Kabupaten Ciamis mampu meraih juara ke 2 setelah kontingen Cirebon yang menjadi juara pertama dengan kesenian Buroq-nya. Sementara juara ke 3 diraih Kabupaten Subang. Namun untuk tingkat Nasional yang diikuti oleh 12 Provinsi, Jawa Barat yang diwakili oleh kesenian Bebegig (Juara 1 tingkat Jawa Barat tahun 2006) yang juga masih berasal dari Kabupaten Ciamis harus mengalah kepada kontingen yang datang dari jauh yaitu Sumatra Barat sebagai juara pertama, disusul oleh Kalimantan Tengah dan Banten.

Hampir seluruh kabupaten menampilkan jenis kesenian tradisi yang ada didaerahnya masing-masing. Untuk wilayah Priangan, Kabupaten Garut menampilkan “Angklung Buncis”, Sumedang menampilkan seni rengkong dalam prosesi “Ampih Pare” , Kotif Banjar “Jampana”, Kota Tasikmalaya menampilkan “Angklung Badud” dan Kabupaten Tasikmalaya menampilkan “Tari Batok” yang dipadukan dengan seni tradisinya.

Menurut Pandu, Prestasi bagi Wayang Landung bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah mengembangkannya di masyarakat. “Wayang Landung mudah dibuat oleh siapa saja, murah pula biayanya karena terbuat dari unsur dedaunan yang ada disekitar rumah, bentuknya pun menarik karena memiliki tinggi 4 meter dengan bentuk Wayang Golek.” Ujar pria yang juga menciptakan dan tengah mengembangkan seni pertunjukan Loyang (longser wayang) dan Wayang Sekar (wayang anak-anak) dalam wadah Komunitas Sangkala Disbudpar Ciamis.

Wayang Landung memang diadaftasi dari beberepa idiom tradisi. bentuknya diambil dari orang-orangan sawah namun wanda dan rupanya dari wayang golek. Terbuat dari jerami, eurih, kararas, dan janur. Memainkan Wayang Landung sama halnya dengan memainkan Wayang Golek, karena tangannya diberi tuding bambu yang dipegang oleh seorang penari yang memanggulnya. Kendati beratnya mencapai 25 kg, namun pemanggulnya dapat bergerak lincah untuk melakukan konfigurasi tari maupun berjalan jauh.

Adanya kreasi-kreasi baru yang diangkat dari nilai ketradisian menurut Pandu merupakan hal penting. Selain memperkaya khazanah seni budaya daerah, hal itu juga wujud dari kreatifitas seniman. “Mungkin puluhan tahun ke depan seni kreasi baru ini akan menjadi tradisi pula seandainya berkembang dimasyarakat” ujar Pandu. Lebih jauh Pandu juga mengatakan bahwa saat ini seni tradisi Indonesia yang merupakan kekayaan intelektual terancam diakui juga oleh negara lain sebagai kesenian aslinya, seperti kasus Angklung, Lagu Rasa Sayange dan terakhir Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia.

“Pemerintah harus singkil memberikan perlindungan terhadap Seni Tradisi Indonesia. Baik itu dengan undang-undang hak cipta, maupun dengan semakin memperbanyak event-event budaya di berbagai wilayah agar seni tradisi semakin terpublikasikan lebih luas lagi. Disamping itu banyaknya kegiatan tersebut memberi gairah kepada seniman penggarapnya untuk menampilkan yang terbaik sekaligus meningkatkan daya tarik wisata daerah”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *