Siasat Jitu Allegri Hadapi Taktik Defensif Simeone

Juventus berhasil lolos ke babak perempat final Liga Champions 2018/19 meski pada leg pertama kalah 0-2 berasal dari Atletico Madrid. Pada leg ke-2 yang digelar Rabu (13/3) dini hari WIB, tanpa dianggap Juve bisa melibas Atleti di Allianz Stadium dengan skor 3-0. Tiga gol Juve diborong oleh seorang Cristiano Ronaldo. Juve lolos dengan agregat 3-2. Meski Ronaldo menjadi pahlawan Juve, tetapi apresiasi lebih patut diberikan pada pelatih Juve, Massimilliano Allegri. Eks pelatih AC Milan ini menentukan taktik dan trik pas agar trik Atleti yang diusung Diego Simeone bisa dipatahkan dan Juve berhasil mencetak tiga gol tanpa sekalipun kebobolan. Atleti turun dengan pola dasar 4-4-2 layaknya pada leg pertama. Pergantian susunan pemain terjadi dikarenakan Thomas Partey dan Diego Costa akumulasi kartu pas Filipe Luis mengalami cedera. Sebagai gantinya Thomas Lemar, Santiago Arias, dan Alvaro Morata bermain sejak menit pertama. Juventus terhitung gunakan pola dasar 4-3-3 sama layaknya pada leg pertama. Akan tetapi Alex Sandro tidak bisa tampil lantaran akumulasi kartu. Leonardo Spinazzola isikan tempatnya. Mattia De Sciglio pun absen dikarenakan cedera, Allegri memasang Joao Cancelo sejak menit pertama.

Selain itu dikatakan judi online bola terpercaya, Allegri mengubah susunan pemain lain. Emre Can menggantikan Rodrigo Bentancur pas Federico Bernardeschi menggantikan Paulo Dybala yang diandalkan sejak menit pertama pada leg pertama. Inilah yang memberikan perubahan pada permainan Juve di leg kedua. Menghadapi compact defense Atleti yang memasang garis pertahanan rendah dengan mengandalkan dua lini (per lini empat pemain) di sepertiga pertahanan, Juve selalu membentuk pola 3-1-4-2 pas menguasai bola layaknya leg pertama. Bernardeschi (di leg pertama Dybala) akan menempati daerah di antara bek sedang dan bek kiri lawan (half-space) dengan Blaise Matuidi. Ronaldo yang pas tak menguasai bola bermain sebagai winger kiri menemani Mario Mandzukic di kotak penalti ketika Juve menyerang. Merapatnya para pemain sayap ke daerah sedang ini dibarengi ke-2 full-back yang naik apalagi bisa sejajar dengan dua penyerang terdepan.

Pada laga ini ke-2 full-back Juve yang diisi Spinazzola dan Cancelo lumayan leluasa membantu serangan dikarenakan Atleti bermain lebih defensif. Atleti mengandalkan serangan balik hanya via pemain terdepan dan gelandang. Tidak layaknya pada leg pertama, full-back Atleti lebih difokuskan merawat kedalaman daerah kotak penalti pertahanan. Pemilihan Bernardeschi dibanding Dybala sendiri layaknya bagian berasal dari penerawangan Allegri pada langkah bermain Atleti. Allegri seolah menyadari jikalau Atleti akan bermain lebih bertahan dibanding leg pertama. Cukup lumrah sebetulnya mengingat Atleti sudah unggul 2-0 hasil kemenangan leg pertama agar pertahanan diperkuat dengan target meminimalisasi area di lini pertahanan. Dibanding Dybala, Bernardeschi lebih fasih didalam mengirimkan umpan silang. Selain itu tipe permainan pemain yang dibeli berasal dari Fiorentina itu lebih fisikal dibanding Dybala.

Menghadapi Atleti yang tak sangsi merebut bola secara agresif, Juve sebetulnya butuh pemain yang lebih liat didalam menguasai bola agar tak mudah kehilangan bola; terutama Atleti benar-benar handal didalam memainkan counter-attack terutama didalam transisi bertahan ke menyerang. Pilihan tersebut terbukti jitu. Bernardeschi bermain impresif nyaris di sepanjang laga. Gol pertama tak lepas berasal dari aksi pemain berusia 25 th. tersebut. Ronaldo terima bola umpan silang berasal dari daerah half-space di mana daerah tersebut sebetulnya kerap diisi Bernardeschi (dan Matuidi) pas Juve menguasai bola. Dari kanan pertahanan Atleti, Bernardeschi mengirim umpan ke tiang jauh untuk disambut CR7.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *